Senin, 28 Maret 2011

Teori Fungsionalisme Sosiologi Klasik(Parson & Merton).RDWAPRILAMSAH


TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS
Robert Nisbet menyatakan : "Jelas bahwa fungsionalisme structural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang" (Turner dan Mayarski, 1979).
Teori ini ialah sudut pendekatan yang menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya , terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai, norma dan aturan kemasyarakatan tertentu, suatu general agreements yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.
Pendekatan ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk ekuilibrium. Karena sifatnya demikian, maka aliran pemikiran ini disebut sebagai integration approach, order approach, equilibrium approach atau lebih populer disebut structural-functional approach .
Pendekatan Fungsionalisme Struktural awalnya muncul dari cara melihat masyarakat dengan dianalogikan sebagai organisma biologis. Auguste Comte dan Herbert Spencer melihat adanya interdependensi antara organ-organ tubuh kita yang kemudian dianalogikan dengan masyarakat. Sebagaimana alasan-alasan yang dikemukakan Herbert Spencer sehingga mangatakan masyarakat sebagai organisma sosial adalah:
a. Masyarakat itu tumbuh dan berkembang dari yang sederhana ke yang kompleks
b. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat berjalan secara perlahan atau evolusioner
c. Walaupun institusi sosial bertambah banyak, hubungan antarsatu dan lainnya tetap dipertahankan kerena semua institusi itu berkembang dari institusi yang sama
d. Seperti halnya bagian dalam organism biologi, bagian-bagian dalam organisma sosial itu memiliki sistemnya sendiri (subsistem) yang dalam beberapa hal tertentu dia berdikari.
Pokok pikiran inilah yang melatar belakangi lahirnya pendekatan fungsionalisme-struktural yang kemudian mencapai tingkat perkembangannya yang sangat berpengaruh dalam sosiologi Amerika, khususnya di dalam pemikiran Talcott Parsons (1902-1979).
Dengan kata lain, suatu sistem sosial, pada dasarnya tidak lain adalah suatu sistem dari tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh berkembang tidak secara kebetulan, namun tumbuh dan berkembang di atas consensus, di atas standar penilaian umum masyarakat. Yang paling penting di antara berbagai standar penilaian umum tersebut adalah norma-norma sosial. Norma-norma sosial itulah yang membentuk struktur sosial.
Sistem nilai ini, selain menjadi sumber yang menyebabkan berkembangnya integrasi sosial, juga merupakan unsur yang menstabilir sistem sosial budaya itu sendiri.
Oleh karena setiap orang menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku mereka kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu. Kemudian pengaturan interaksi sosial di antara mereka dapat terjadi karena komitmen mereka terhadap norma-norma yang mampu mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan individu. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting di mana hasrat-hasrat para anggota masyarakat dapat dikendalikan pada tingkat dan arah menuju terpeliharanya sistem sosial adalah mekanisme sosialisasi dan pengawasan sosial (social control).
PARADIGMA AGIL
Kehidupan sosial sebagai suatu sistem sosial memerlukan terjadinya ketergantungan yang berimbas pada kestabilan sosial. Sistem yang timpang karena tidak adanya kesadaran bahwa mereka merupakan sebuah kesatuan, menjadikan sistem tersebut tidak teratur. Suatu sistem sosial akan selalu terjadi keseimbangan apabila ia menjaga Safety Valve (katup pengaman) yang terkandung dalam paradigma AGIL.
Fungsi diartikan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada memenuhi kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem (Rocher). Dengan menggunakan definisi itu, maka terjadi Paradigma AGIL sebagai teori Sosiologi yang dikemukakan oleh Talcott Parsons (1950). Teori ini adalah lukisan abstraksi yang sistematis mengenai keperluan sosial (kebutuhan fungsional) tertentu, yang mana setiap masyarakat harus memeliharanya untuk memungkinkan pemeliharaan kehidupan sosial yang stabil. Teori AGIL adalah sebagian teori sosial yang dipaparkan oleh Parson mengenai struktur fungsional, diuraikan dalam bukunya The Social System (1937), yang bertujuan untuk membuat persatuan pada keseluruhan system sosial.
AGIL merupakan akronim dari Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency atau latent pattern-maintenance, meskipun demikian tidak terdapat skala prioritas dalam pengurutannya.
a. Adaptation yaitu kemampuan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan dan alam. Ada dua permasalahan yang perlu diperhatikan yakni, pertama segi inflexible (keras atau tak dapat diubah) yang datang dari lingkungan dan kedua adalah transformasi aktif dari transformasi. Lingkungan bisa berupa fisik dan sosial.
b. Goal-Attainment adalah persyaratan fungsional bahwa tindakan diarahkan pada tujuan-tujuan masa depan dan membuat keputusan yang sesuai dengan itu. Menurut skema alat-tujuan (means-end schema), pencapaian maksud adalah tujuan dan kegiatan penyesuaian adalah alat.
c. Integration atau harmonisasi keseluruhan anggota sistem sosial setelah sebuah general agreement mengenai nilai-nilai atau norma pada masyarakat ditetapkan. Di sinilah peran nilai tersebut sebagai pengintegrasi sebuah sistem sosial
d. Latency (Latent-Pattern-Maintenance) adalah memelihara sebuah pola, dalam hal ini nilai-nilai kemasyrakatan tertentu seperti budaya, norma, aturan dan sebagainya.
Di samping itu, Parsons menilai, keberlanjutan sebuah sistem bergantung pada system tindakan yakni:
a. Sistem memiliki properti teratur dan saling bergantung
b. Sistem cenderung mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan
c. Sistem mungkin statis atau bergerak
d. Sifat dasar sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian lain
e. Sistem memelihara batas-batas dengan lingkungan
f. Alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan menjaga keseimbangan sistem
g. Sistem cenderung menuju arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas, hubungan, mengendalikan lingkungan berbeda dan kecendrungan merubah system dari dalam.
Menurutnya persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalam sistem ialah dengan internalisasi dan institusionalisasi. Internalisasi artinya ialah nilai dan norma sistem sosial ini menjadi bagian kesadaran dari aktor tersebut. Akibatnya ketika si aktor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sistem sosialnya.
Sementara proses institusionalisasi adalah sosialisasi yang berhubungan dengan pengalaman hidup dan harus berlangsung secara terus menerus, karena nilai dan norma yang diproleh sewaktu kecil tidaklah cukup untuk menjawab tantangan ketika dewasa.

Fungsionalisme Taraf Menengah (Middle Range Theories)


Seperti Parsons, Merton menekankan pada tindakan-tindakan yang berulang kali atau yang baku yang berhubungan dengan bertahannya suatu sistem sosial dimana tindakan itu berakar. Tapi Merton tidak menaruh perhatian pada orientasi subyektif individu yang terlibat dalam tindakan seperti itu, melainkan pada konsekuensi sosial obyektifnya. Merton tetap mempertahankan suatu pembedaan yang tajam antara matif-motif subyektif (tujuan atau orientasi) individu dan konsekuensi sosial obyektif yang muncul dari tindakan itu.
Misalnya, dalam proses reproduksi keluarga di dalam suatu masyarakat. Apabila anggota masyarakat memperoleh anak, belum tentu mereka dengan sadar didorong oleh keinginan untuk menjamin bertahannya masyarakat dalam jangka waktu yang lama, namun alasan mereka lebih untuk menyatakan cinta, mengalami kepuasan seksual, menyesuaikan diri dengan kebiasaan sosial, dan untuk memiliki kepuasan punya anak secara emosional.
Pokok pikiran lain Merton menyangkut pembentukan tipologi. Ia berangkat dari sebuah contoh konkret yaitu cara-cara integrasi sosial. Dengan menyilangkan data-data empiris yang berasal dari angket atau penelitian dan konseptualisasi logis kita bisa membentuk lima jenis adaptasi individu terhadap masyarakat yaitu;
1.                  Kompromisme (individu tunduk pada keinginan kelompok)
2.                   Inovasi (individu menerima nilai-nilai kelompok namun tidak menjadikan norma dan prosedur kebiasaan sebagai miliknya sendiri)
3.                   Ritualisme (individu tetap membeku dalam cara berperilaku yang terkait)
4.                   Pelarian (individu hidup secara marginal dalam masyarakat)
5.                  Memberontak (individu membantah dan memerontak nilai-nilai sosial)[2]

Fungsi Manifest dan Fungsi Latent
Setelah itu berkembang lagi gagasan Merton, sekarang ia menambahkan adanya fungsi manifes (yang dikehendaki) dan fungsi laten (yang tidak dikehendaki) di dalam analisis fungsional. Misalkan, Merton berpendapat bahwa di dalam perbudakan dapat mengakibatkan produktivitas ekonomi (manifes), akan tetapi dari situ akan menimbulkan banyak sekali status sosial budak dalam masyarakat tersebut (laten).
Pembedaan antara motif dan fungsi ini dinyatakan Merton dalam perbedaan yang tajam antara fungsi manifest dan fungsi latent. 
Fungsi manifest adalah yang dikehendaki, beberapa ciri dari fungsi manifest, seperti dinyatakan William M Dobriner adalah sebagai berikut :
1.                  Fungsi manifest adalah jelas, milik public, ideologis, nyata, alamiah/tidak dibuat-buat, memiliki maksud dan penjelmaan dari akal sehat.
2.                  Fungsi manifest adalah tujuan atau penjelasan aktor dalam struktur yang berguna untuk menilai atau menjelaskan fakta sosial, kelompok, atau peristiwa.
Sehingga, fungsi manifest adalah konsekuensi-konsekuensi obyektif yang menyumbang pada penyesuaian terhadap sistem itu yang dimaksudkan dan diketahui oleh partisipan dalam sistem itu. Misalkan, sebuah supermarket yang mempunyai fungsi nyata yaitu menyediakan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Fungsi latent mempunyai arti sebagai fungsi yang tidak dimaksudkan dan tidak diketahui. Dalam kata lain menyebutkan bahwa fungsi latent merupakan suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang fungsional bagi system yang dirancang. Namun ada dua jenis konsekuensi tak terantisipasi lain: “ hal-hal disfungsional bagi  sistem yang telah ada, dan itu semua mencakup disfungsi laten,” dan “hal-hal yang tidak relevan dengan sistem yang mereka pengaruhi secara fungsional atau disfungsional. Konsekuensi-konsekuensi nonfungsional”. Contoh fungsi Laten : Fungsi laten sendiri dapat dikatakan sebagai konsekuensi yang dapat terjadi, misalkan saja dari contoh tadi yaitu bahwa super marker mempunyai pengaruh terhadap konsumen. Berkembangnya kapitalisme dalam masyarakat modern, selain menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat juga berpotensi menimbulkan ketergantungan dan sikap konsumtif bagi masyarakat.
Fungsionalisme Struktural Merton
Merton merupakan mahasiswa dari Parsons yang juga mengungkap tentang teori fungsionalisme struktural. Namun disini terdapat perbedaan yaitu kalau fungsionalis struktural awal cenderung memusatkan perhatian pada fungsi sebuah struktur dan terdapat motif-motif subyektif di dalamnya, akan tetapi bagi Merton fungsionalisme struktural lebih memandang fungsi-fungsi sosial dibanding motif individu. Tapi jika hanya dilihat dari fungsi sosialnya pasti yang terlihat hanyalah sisi positifnya saja tanpa terlihat sisi lain yang bersifat negatif, sehingga dalam perkembangannya Merton menciptakan apa yang dinamakan disfungsi. Misalkan, perkembangan sektor pertanian di salah satu daerah di Indonesia yang menyebabkan ketergantungan pada bidang ini dan konsekuensi negatifnya Indonesia sulit untuk melakukan industrialisasi.
Merton mengungkapkan bahwa pendekatan funsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial. Bersumber dari teori-teori sosiolog klasik, sepeti Max Weber, William I Thomas dan Emile Durkheim, namun Merton tidak mempunyai teori yang bulat, akan tetapi perlu dicatat bahwa inti yang menonjol dalam teori Merton yaitu arti pentingnya memusatkan perhatian pada struktur sosial dalam analisa sosiologis.
Pengaruh Weber terhadap teori Merton terlihat tentang bagaimana Merton melihat birokrasi. Ia mengamati perihal birokrasi modern seperti, birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal yang memiliki batas-batas yang jelas, serta kegiatannya berhubungan dengan tujuan organisasi, status birokrasi tersusun atas susunan yang bersifat hierarkis, dan lain sebagainya. Dari sinilah ia mengerti bahwasanya stuktur birokratis memberi tekanan padas individu sehingga mereka menjadi disiplin, bijaksana dan metodis. Namun, kepatuhan yang berlebihan ini tak jarang meninbulkan efek negatif terhadap masyarakat.
Selain itu Merton juga mengingatkan bahwa penggunaan semua analisa fungsional tidak boleh diasumsikan semua memenuhi persyaratan fungsionalnya atau dengan kata lain mempunyai konsekuensi yang bersifat disfungsional, konsekuensi ini bisa terjadi pada jangka pendek dan bisa terjadi pula secara jangka panjang. Contoh jangka pendek, misalnya tindakan meningkatkan solidaritas pada suatu kelompok masyarakat, sekaligus dapat meningkatkan ketegangan dan konflik dengan kelompok lainnya. Sementara contoh disfungsi jangka panjang dapat terlihat pada dampak-dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu seperti polusi lingkungan, menipisnya sumber daya alam, dan bertambahnya nuklir perang. Apabila diringkas dapat timbul suatu keadaan dimana terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok. Misalkan penggunaan mesin pengganti buruh dalam industri mungkin fungsional untuk pemiliknya namun disfungsional untuk kelas buruh karena meningkatnya pengangguran. Sehingga dengan gagasan ini pula teori dari Durkheim dapat dikritik yaitu mengenai agama yang dapat meningkatkan soliaritas, dan beliau mengabaikan proses perusakan solidaritas dari timbulnya berbagai konflik dalam masyarakat. Sebab situasinya semaki kuat solidaritas di dalam suatu kelompok agama, maka semakin kuat ketegangan dan kemungkinan konflik antar agamayang satu dengan yang lain.
Contoh Teori Fungsional Taraf Menengah
1.                  a.      Struktur Sosial dan Anomi
Merton juga mengungkapkan bahwa di dalam stuktur sosial terdapat anomi, yang terjadi akibat adanya disjungsi antara norma dengan tujuan kultural dengan kemampuan anggota kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut. Merton beranggapan bahwa anomi dan perilaku menyimpang dalam masyarakat di Amerika merupakan hasil dari ketegangan-ketegangan tertentu dalam struktur sosial. Kebudayaan Amerika mendorong semua masyarakat untuk menghargai sukses dalam bidang okupasional dan uang, tanpa memandang latar belakang kelas sosial ekonominya. Hal lain yang dipandang disini yaitu penyimpangan atau disfungsiona dalam masyarakat. Teori Merton sering digunakan dalam hubungannya dengan usaha untuk menjelaskan kejahatan dan kenakalan di mana umumnya diasumsikan bahwa penyimpangan itu disfungsional untuk masyarakat. Selain itu, penyimpangan dapat merangsang berbagai bentuk perubahan sosial yang direncanakan untuk memperbaiki persebaran kesempatan untuk berhasil. Misalnya, alokasi PKL yang ilegal mampu merangsang Pemerintah Kota untuk lebih memperhatikan sistem tata kota yang tertib.
Karena itu ada upaya yang dilakukan untuk memunculkan konsep sosiologi dan psikologi dalam pembedaan antara anomi sederhana dan anomi akut.
a)      Anomi Sederhana, yaitu kondisi membingungkan dalam kelompok atau masyarakat yang terjadi persoalan atau konflik di antara system nilai, yang menghasilkan beberapa tingkat kesulitan dan sebuah perasaan terpisah dari kelompok.
b)      Anomi Akut, yakni kemerosotan dan didintegrasi ekstrem system nilai, yang menghasilkan kecemasan tertentu. Ini sangat berguna mengidentifikasikan secara terminology pernyataan yang sering terjadi, tetapi kadang-kadang menolak fakta bahwa, seperti kondisi masyarakat lain, anomi itu bias berubah-ubah dalam tingkatan dan mungkin juga dalam hal jenisnya.
Anomi terjadi ketika terdapat disjungsi akut antara norma-norma dan tujuan cultural yang terstruktur secara sosial dengan kemampuan anggota kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut”. Jadi, karena posisi mereka dalam struktur sosial masyarakat, beberapa orang tidak mampu bertindak menurut nilai-nilai normatif. Kebudayaan menghendaki adanya beberapa jenis perilaku yang dicegah oleh struktur sosial.
Penelusuran ke konsep Anomi. Anomie yang dijelaskan oleh Durkheim adalah, “ the property of the social and cultural structure, not a property of indifidual confronting that structure. Dalam konteks tersebut pemanfaatan konsep untuk memahami beragam bentuk tersebut dikembangkan dalam artian individual.
1.                  b.      Kepribadian Birokratis
Sebuah contoh yang tepat mengenai tipe konsekuensi yang bersifat tidak produktif atau disfungsional diberikan Merton dalam analisanya mengenai kepribadian birokratis. Merton mengungkapkan bahwa satu konsekuensi disfungsional dari kepercayaan yang terlampau besar terhadap peraturan adalah bahwa kaum birokrat itu melihat kepatuhan terhadap peraturan sebagai tujuan dan akibatnya mereka tidak mampu menjawab tantangan situasi baru secara fleksibel.
1.                  c.       Teori Kelompok Referens
Kelompok referens adalah kelompok yang merupakan dasar, bagi seorang untuk penilaian diri, perbandingan dan bimbingan normatif. Kelompok seperti itu tidak harus merupakan kelompok di mana orang itu menjadi salah seorang anggotanya. Sumbangan yang khas dari teori kelompok referens Merton adalah pembedaan konseptual yang dibuatnya antara kelompok keanggotaan dan kelompok referens.
Disfungsi Laten, Masalah Sosial, dan Perubahan Sosial
Korelasi antara ketiga poin di atas yaitu bahwasanya konsep disfungsi sangatlah berguna untuk mengembangkan pendekatan fungsional terhadap masalah sosial dan perubahan sosial. Misalkan saja pada pemerintahan yang dilihat sebagai penyesuaian struktur pada disfungsi laten yang menjadi permasalahan sosial. Di sini terlihat jelas bahwa dalam instansi pemerintah sejalan dengan program dari kabinet dalam memegang dari pada Negara pastinya akan selalu timbul disfungsi yang berupa masalah-masalah sosial seperti kriminalitas maupun kemiskinan dan inilah yang disebut sebagai disfungsi laten dari pemerintah.
Konsekuensi fungsional dan disfungsional terlihat perbedaanya apabila digabungkan dengan pembedaan antara fungsi manifes dan fungsi laten. Logikanya seperti ini, yaitu sebuah ketika sebuah super market mempunyai tujuan manifes memudahkan manusia atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, hal ini bersifat fungsional. Akan tetapi, disamping itu super maerket juga melahirkan budaya yang kurang baik yaitu budaya konsumtif kepada masyarakat yang menuntut masyarakat untuk selalu bisa mendapatkan barang-barang keluaran yang baru, dan sisi inilah yang disebut sebagai lembaga ini bersifat disfungsi.
Dalam perkembangannya, Merton juga mengutip tiga postulat yang terdapat dalam analisa fungsional. Yang pertama adalah fungsionalisme masyarkat (functional unity of society) dapat dibatasi sebagai keadaan yang selaras tanpa menghasilkan konflik. Ia menegaskan bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari suatu masyarakat adalah bertentangan dengan fakta. Ia juga menegaskan bahwa disfungsi tidak boleh diabaikan hanya karena keterpesonaan terhadap fungsi-fungsi positif. Postulat yang kedua, yaitu fungsionalisme universal, yang menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Dan postulat yang ketiga ialah indispensability. Ia menyatakan bahwa dalam setiap peradaban, kebiasaan, ide dan kepercayaan memiliki fungsi penting dan merupakan bagian penting yang tak dapat dipisahkan.
Gagasan lain yang diungkap oleh Merton yaitu nonfungsi, yang didefinisikan sebagai konsekuensi yang tidak relevan bagi suatu sistem. Namun, disini tidak hanya sekedar menambahkan fungsi dan disfungsi positif , sehingga Merton juga menambahkan konsep keseimbangan mapan untuk membantu menjawab apakah fungsi positif lebih penting dari pada disfungsi, atau sebaliknya.
Tidak hanya cukup sampai disini, pertanyaan-pertanyaan tentang fungsi ini masih dibilang sulit untuk diuraikan, sehingga Merton menambahkan lagi gagasannnya tentang level analisis fugsional, yang bisa untuk menganalisis organisasi maupun kelompok tentang fungsi dan disfungsi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Merton tidak hanya mencurahkan perhatiannya pada fungsi struktur, namun seiring dengan perkembangannya ia lebih memfokuskan pada disfungsi suatu struktur sosial.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar