Senin, 28 Maret 2011

Sistem Ekonomi Islam - Sejarah Inflasi.rdwaprilamsah


A.     Sejarah Inflasi

Emas memberikan ‘nilai’ pada suatu mata uang dan juga ekseptabilitas di tempat lain. Dalam hal ini, sejarah perekonomian Kerajaan Byzantium menarik untuk dipelajari. Byzantium berusaha keras untuk mengumpulkan emas dengan melakukan ekspor komoditasnya sebanyak mungkin ke Negara-negara lain dan berusaha mencegah impor dari Negara-negara lain agar dapat mengumpulkan uang emas sebanyak-banyaknya. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Pada akhirnya orang –orang harus makan, membeli pakaian, mengeluarkan biaya untuk transportasi, serta juga harus menikmati hidup sehingga mereka akan membelanjakan uang (kekayaan) yang dikumpulkan tadi sehingga akhirnya malah menaikan harga komoditas sendiri. Spanyol setelah era ‘Conquistadores’ juga mengalami hal yang sama, begitu juga dengan inggris setelah perang dengan Napoleon.  Pada masa kini, terutama setelah era kapitalis dimulai, masalah yang sama tetap menjadi perdebatan para ekonom dan otoritas keuangan. Nama-nama seperti Adam Smith, David Ricardo, J.M. Keynes, Andrew Jackson, Willian Jennings Bryan, Charles de Gaulle, Milton Friedman, dn Allan Gresspan terlibat dalan masalah yang sama,
Apakah itu dinar di Negara-negara Arab ataupun mata uang Negara-negara Eropa se[erti Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Swedia, dan Rusia bahkan Amerika, semuanya mengalami apa yang dinamakan Inflasi. Awal inflasi mata uang dinar dimulai bahkan pada saat ketika Irak sedang mengalami masa puncak jayanya. Coinage debasement dan inflasi ikut mendahului perkembangan yang cepat dari peminjaman uang serta perbangkan, khususnya di Itali, yang merupakan motor perkembangan lebih lanjut dari perkonomian. Inflasi acap kaliberbentuk kenaikan tingkat harga secara gradual dari pada kekacauan ledakan ekonomi.
Revolusi harga di Eropa terjadi sepanjang beberapa abad, pada kenaikan tingakat harga pertama kali tampak di Itali dan Jerman sekitar tahun 1470. Kedian seperti penyakit yang sangat menular, inflasi menyerang Eropa dalam beberapa tahapan, dimulai dari Inggri dan Prancis pada tahun 1480-an, meluas kesemenanjug Iberia pada decade selanjutnya dan mnyerenga Eropa timur pada tahun 1500-an. Kenaikan tinggak harga sangat cepat pada bahan-bahan mentah terutama makanan. Di Inggris harga kayu, ternak dan biji-bijian meningkat menjadi 5 sampi 7 kali lipat dari tahun1480 sampai tahun 1650, sementara itu barang manufaktur harganya meningkat tiga kali lipat. Kenaikan sebesar 700% selama 170 tahun itu jika dihitung seca compound hanya sedesar 1,2% pertahunnya, akan tetapi disisi lain, gajihanya meningkat kurang dari ½ nya, sehingga masyarakat sangat mengalami goncangan akibat tekanan inflasi. Daya beli dan gaji pekerja menurun dengan tinggakat yang dianggap sangat mencemaskan.[1]
Apa yang menyebabkan semua hal yang diatas? Tidak ada satu sebab utama yang dapat disalahkan. Smuanya adalah akibat gabungan dari penurunan produksi pertanian, pajak yang berlebihan, depopulasi, manipulasi pasar, high labor cost, pengangguran, kemewahan yang amat berlebihan, dan sebab-sebab yang lain seperti perang yang berkepanjangan, embargo, dan pemogokan pekerja.
Adapun Negara Eropa yang dapat dikatan bertahan dengan sukses menghadapi inflasi adalah Inggris. Akan tetapi, hal itu terjadi pada masa-masa perekonomiannya dianggap terbelakang dibandingkan dengan Negara-negara Eropa lainnya. Pfan financial rectitude walaupun banya dikagumi, tidak pernah menjadi jalan untuk mencapai kemakmuran. Setelah perkembangan pesat uan (pendanaan kredit) dan simpanan bank akibat kebutuhan pembiayaan perang dengan Napoleon dan kemudian untuk pembiayaan Perang Dunia I, Inggris terpaksa menghentikan konvertibilitas antara sreling dengan emas serta obsesinya dengan penciptaan superior-quality money karena terjadi deflasi yang drastic yang diikuti gangguan sosial yang sangatserius. Keputusan untuk kembali kestandar emas pada 1929, yang medahului beberapa kebijakan yang mencekik perekonomian, akhirnya diakhiri pada 1931. Pederitaan yang kesengsaraan yang tidak terlalu buruk, akan tetapi Inggris tidak pernah kembali kestandar emas dan menciptakan superior quality money yang dianggap merupakan sumber kemakmuran dan menjadi kebanggaan sekama beberapa abad. Lebih baru ketika Inggris memutuskan keluar dari European Monetary Union (EMU) pada tahun 1992 dan membiarkan mata uangnya mengalami depresiasi, ekspor melonjak naik dan perekonomian tumbuh sedangkan Negara EMU yang lainnya mengalami stagnasi.[2]
Selain Inggris, Perancis juga mengalami permasalahan antar emas-nilai mata uang-inflasi. Michel Chevalier (seorang ekonom Perancis pada abad ke-19) dalam karangannya”On the Probable Fall in the Value of Gold: The Comercial and Social Consequences Which May Ensue, and the Measures Which it Invites” pada tahun 1859 manyebutkan bahwa pertambahan penawaran emas akibat ditemukannya tambang-tambang emas baru di Clifornia, Australia dan Afrika Selatan akan mengakibatkan turunnya harga emasrelatif dibandingakan perak yang kemudian akan membawa padaturunnya nilai riil emas (inflasi) atau naiknya tingkat harga seluruh barang kecuali emas. Diketahui bahwa ada hubungan yang besar antara kenaikan produksi emas dengan kenaikan tingkat inflasi di prancis pada tahun 1870
Lalu mengapa inflasi terjadi? pada saat tingkat harga secara umum naik, pembeli harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk jumlah barang adan jasa yang sama. Dengan kata lain, inflasi tidak akan berlanjut jika tidak dibiayai dengan berbagai cara, Jika consumen tidak dapat menemukan uang lebih untuk membeli barang demi mempertahankan tingkat pembelanjaannya, mereka anakn membatasi pembelian dengan membeli lebih sedikit yang kemudian pada akhirnya akan membatasi penjual untuk menaikan harga. Kaum monetaris berpendapat bahwa revolusi harga tidak akan terjadi  jika tidak dibantu oleh kenaikan penawaran uang yang berasal dari bullion emas dan perak yang diproduksi oleh New World (Amerika, Austrealia dan Afrika Selata) yang walaupun banyak juga emas dan perak tersebut akhirnya ditumpuk oleh pribadi/institusi sehingga keluar dari sirkulasi, ataupun jadi perhiasan atau ornament-ornamen untuk bangunan istana dan katedral serta banyak juga dari emas tersebut yang dikapalkan ke Asia dan tidak pernah kembali lagi. Bisa dikatanak inflasi terjadi dimanapun, terhadap mata uang apapun, dan pada periode kapanpun.

B.     Teori Inflasi Konvensional

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.[3]
Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer yang dimaksud inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang disebabkan merosotnya nilai uang karena banyaknya uang yang beredar.[4] Sesuan dengan pengertian diatas inflasi berarti kenaikan secara umum dari barang/komoditas dan jasa selama suatu periode tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai penilaian moneter terhadap suatu komoditas. Definisi inflasi oleh ekonom modern adalah kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayar terhadapat barang-barang komoditas dan jasa. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap barang-barang/komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi.[5]
Indlasi diukur dengan tingkat inflasi (rateof inflation) yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara umum. Persamaannya adalah sebagai berikut:
tingkat harga t – tingkat harga t-1 x 100 = Rate of inflastion
tingkat harga t-1
Para ekonom cenderung lebih senang menggunakan ‘Implicit Gross Domestic Product Deflator’ atau GDP Deflator untuk melakukan pengukuran tingkat inflasi. GDP deflator adalah rata-rata harga dari seluruh barang tertimbang dengan kuantitas barang-barang tersebut yang betul-betul dibeli. Persamaanya adalah sebagai berikut:
Implisit price deflator= nominal GDP x 100
                               Real GDP
Menurut tingkat keparahannya, inflasi dapat digolongkan menjadi beberapa tingkatan:
1.      Moderate Inflastion : Umumnya disebut sebagai inflasi satu digit dengan karakteristik tingkat kenaikan harga yang lambat.  Pada tingkat inflasi seperti ini, orang masih mau memegang uang dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang dari pada dalam bentuk asset riil.
2.      Galloping inflation : Inflasi yang terjadi pada tingkat ini berkisar 20% sampai 200% per tahun. Pada tingkat ini, orang hanya mau memegang uang seperlunya saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentuk asset riil, seperti rumah, tanah, dan lain-lain.
3.       Hyper inflationInflasi : yang terjadi sangat tinggi. Walaupun sepertinya banyak pemerintahan yang perekonomiannya dapat bertahan menghadapi galloping inflation, namun tidak pernah ada pemerintahan yang dapat bertahan menghadapi inflasi jenis ketiga ini. Contohnya adalah Weimar Republic di Jerman pada tahun 1920-an. Pemerintah Zimbabwe akan meluncurkan uang kertas bernominal 100 triliun Zimbabwe sebagai upaya untuk mengakomodasi hiperinflasi negara itu. Angka resmiinflasi di Zimbabwe pada bulan Juli lalu mencapai 231 juta persen akibat babak belurnya perekonomian negara itu.Harian Herald yang merupakan corong pemerintahan Presiden Robert Mugabe, Jumat (16/1), memberitakan, Bank Sentral Zimbabwe segera mencetak uang bernominal 100 triliun dollar Zim (babwe) atau setara dengan 300 dollar AS (sekitar Rp 330.000) di pasar gelap pada hari Kamis lalu. Nilai dollar Zim praktis merosot drastis hampir setiap harinya.Selain uang bernominal 100 triliun dollar Zim, Bank Sentral Zimbabwe juga meluncurkan uang kertas bernilai 10, 20, dan 50 triliun dollar Zim. ”Guna menjamin rakyat memiliki akses atas uang mereka dari perbankan, Bank Sentral Zimbabwe akan mengeluarkan sejumlah uang kertas yang secara bertahap masuk dalam peredaran, dimulai dari uang bernominal 10 triliun dollar Zim,” ujar bank sentral seperti dikutip Herald.Peluncuran uang bernominal triliunan dollar Zim ini hanya berselang sepekan setelah diluncurkan uang bernominal 10, 20, dan 50 miliar dollar Zim. Tujuannya untuk mengakomodasi tingkat inflasi di Zimbabwe yang sangat ekstrem.[6]

Selain itu, inflasi dapat di golongkan karena penyebab-penyebabnya, yaitu sebagai berikut :
1.      Natural Inflation dan human erro inflation. Sesuai dengan namanya Natural Inflation adalahinflasi yang terjadi karena sebab-sebab ilmiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya. Human Error Inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalah-kesalah yang dilakukan oleh manusia sendiri.
2.      Actual/Anticipated/Expeted Inflation dan Unanticipated/Unexpected Inflation.  Pada expeted inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi atau secara notasi,                    , sedangkan pada unexpected inflation tingkat suku bunga pinjaman nominal belum atau tidak merefleksikan konpensasi terhadap efek inflasi.
3.      Demand Pull dan Cost Push Inflation. Demand pull inflation diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi Permintaan Agregatif (PA) dari barang dan jasa pada suatu perkonomian. Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi Penawaran Agregatif (AS) dari barang dan jasa pada suatu perekonomian.
4.      Spiralling Inflation. Inflasi jenis ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya yang mana inflasi yang sebelumnya itu terjadi sebagai akibat dari inflasi yang terjadi sebelumnya laid an begitu seterusnya.
5.      Imported Inflation dan Domestic Inflation. Imported Inflation bisa dikatakan adalah inflasi dinegara lain yang ikut dialami oleh suatu Negara karena harus menjadi price taker dalam pasar perdagangan interanasional. Domestic Inflation bisa dikatakan inflasi yang hanya terjadi di dalam negari suatu Negara yang tidak mempengaruhi Negara-negara lainnya.
  1. Teori Inflasi Islam
Menurut para ekonom Islam, Inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena:
1.                  Menimbulakan gangugan pada fungsi uang, terhadapa pada fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi dari penawaran dimuka dan fungsi dari unit perhitungan. Orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan akibat dari beban inflasi tersebut. Inflasi juga telah mengakibatkan inflasi kembali, atau dengan kata lain ‘self feeding inflation’.
2.                  Melemahnya semangat menabung dan sikap terhadapa menabung dari masyarakat (turunnya Marginal Propensity to Save).
3.                  Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk non primer dan barang-barang mewah (naiknya Marginal Propensity to Consume).
4.                  mengarahkan investasi pada hal-hal yang non produktif yaitu penumpukan kekayaan(hoarding) seperti: tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi kearah produktif seperti: pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.
Ekomom Islam Taqiuddin Ahmad Ibn al-Maqrizi (1364 M- 1441M), yang merupakan salah satu murid ibn Khaldun, menggolongkan inflasi menjadi dua golongan yaitu:
1.      Natural Inflation
2.      Human Error Inflation.
1.      Natural Inflation (Inflasi Alamiah)
Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini deisbabkan oleh berbagai factor ilmiah yang tidak bisa dihindari umat manusia. Menurut Al-Maqrizi, ketika suatu bencana alam terjadi, bebagai bahan makanan dan hasil bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga prsedianaan barang-barang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastic dan terjadi kelangkaan. Di lain pihak, karena sifatnya yang signifikan dalam kehidupan, permintan terhadap berbagai barang itu mengalami peningkatan. Harga-harga membumbung tinggi jauh melebihi daya beli masyarakat. Hal ini sangat berimplikasi terhadap kenaikan harga berbagai barang dan jasa lainnya. Akibatnya, transaksi ekonomi mengalami kemacetan, bahkan berhenti sama sekali, yang pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan, wabah penyakit, dan kematian dikalangan  masyarakat. Keadaan yang semakin memburuk tersebut memaksa rakyat untuk menekan pemerintah agar segera memperhatikan keadaan mereka. Untuk menanggulangi  bencana itu, pemerintah mengeluarkan sejumlah besar dana yang mengakibatkan pembendaharaan Negara mengalami penurunan drastic karena, disisi lain, pemerintah tidak memperoleh pemasukan yang berarti.[7]
Lebih lanjut, ia menyatakan sekalipun bencana telah berlalu, kenaikan harga-harga tetp berlangsung. Hal ini merupakan implikasi dari bencana alam sebelumnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi, terutama disektor produksi, mengalami kemacetan. Ketika situasi telah norman, persediaan barang-barang yang signifikan, seperti benih padi, tetap tidak beranjak naik, bahkan tetap langka, sedangkan permintaan terhadapnya meningkat. Akibatnya, harga barang-barang ini mengalami kenaikan yang kemudian diikuti oleh kenaikan harga berbagai jenis barang dan jasa lainnya, termasuk upah dan gaji para pekerja.
2.      Human Error Inflation (Infasi Krena kesalah Manusia)
Selain factor alam, Al-Maqrizi mengatakan bahwa inflasi dapat terjadi akibat kesalah manusia. Ia telah mengindentifiasi tiga hal yang baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama menyebabkan terjadinya inflasi ini. Ketiga hal tersebut adalah korupsi dan administrasi yang buruk, pajak yang berlebihan, dan peningkatan sirklasi mata uang atau fulus.
a.      korupsi dan Administrasi yang Buruk
Al-Mqrizi menyatakan bahwa pengangkatan para pejabat pemerintahan yang berdasarkan pemberian suap, dan bukan kapabilitas, akan menempatkan orang-orang yang tidak mempunyai kredibilitas pada berbagai jabatan penting dan terhormat, baik dikalangan legislative, yudikatif, maupun eksekutif. mereka relam menggadaikan semua harta miliknya sebagai kompensasi meraih jabatan yang diinginkan serta kebutuhan sehari-hari sebagai pejabat. Akhirnya para pejabat tidak lagi bebas dari intervensi dan kritik para kroni istana. Mereka tidak hanya disingkirkan setiap saat tetapi disita juga kekayaanya, bahkan dieksekusi. Kondisi ini juga memengaruhi moral dan efisiensi administrasi sipil dan militer. Ketika berkuasa, para pejabat tersebut mulai menyalahgunakan kekuasaan untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk memenuhi kewajiban finansialnya maupun kemewahan hidup.
b.      Pajak yang Berlebihan
Menurut al-Maqrizi, akibat dominasi para pejabat bermental korrup dalam suatu pemerintahan, pengeluaran Negara mengalami peningkatan yang sangat drastic. Sebagai kompensasinya, mereka menerapkan system perpajakan yang menindas rakyat dengan memberlakukan berbagai pajak baru serta menaikan tingkt pajak yang telah ada.. Hal ini sangat memengaruhi kondisi para petani yang merupakan kelompok yang mayoritas dalam masyarakat. Para pemili tanah yang selalu ingin selalu berada dalam kesenangan akan melimpahkan beban pajak melalui para petani melalui peningkatan biaya sewa tanah. Karena tertarik dengan hasil pajak yang sangat menjanjikan, tekanan para pejabat dan pemilik tanah terhadap para petani menjadi lebih besar dan intensif. Konsekuensinya, biaya-biaya untuk penggarapan tanah, penaburan benih, pemungutan hasil panen, dan sebagainya meningkat. Dengan kata lain, panen padi yang dihasilkan pada kondisi ini membutuhkan biaya yang lebih besar hingga melebihi jangkauan para petani. Kenaikan harga-harga tersebut, terutama benih padi, hamper mustahil mengalami penurunan, karena sebagian besar beih padi dimiliki oleh para pejabat yang sangat haus kekayaan. Akibatnya, para petani kehilangan motivasi untuk bekerja dan memproduksi. Mewreka lebih memilih meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaanya dari pada selalu hidup dalam penderitaan untuk kemudia menjadi pengembara di daerah-daerah pedalaman.
c.       Peningkatan Sirkulasi Mata Uang Fulus
Ketika terjadi deficit anggaran sebagai akibat dari prilaku buruk para pejabat yang menghabiskan uang Negara unutk berbagai kepentingan pribadi dan kelompoknya, pemerintah melakukan percetakan uang fulus secara besar-besaran. Menurut al-Maqrizi, kegiatan tersebut semakin meluas pada saat ambisi pemerintah untuk memperoleh keuangan yang besar dari percetakan mata uang yang tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi ini tidak terkendali.
lebih lanjut Al-Maqrizi mengemukakan bahwa kebijakan pemerintah tersebut berimplikasi terhadap keberadaan mata uang lainnya. Seiring dengan keuntungan besar yang diperoleh dari percetakan fulus, pemerintah menghentikan percetakan perak, sebagai mata uang. Bahkan, sebagai salah satu implikasi gaya hidup para pejabat, sejumlah dirham yang dimiliki masyarakat dilebur menjadi perhiasan. Sebagai hasilnya, mata uang dirham mengalami kelangkaan dan menghilang dari peradaran. Semntara itu, mata uang dinar masih terdapat diperedaran meskipun hanya dimiliki pleh segelintir orang.[8]

DAFTAR PUSTAKA

·                     Karim, Adiwarman A, Ekonomi Makro Islami, Cetakan ke-2, PT. RajaGrafindo Persada , Jakarta, 2007
·                     Karim, Adiwarman A, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Cetakan ke-2, PT. RajaGrafindo Persada, 2004.
·                     Kompas dan Republika, Sabtu, 17 Januari 2009.
·                     Salim Peter, Salim Yenny ,Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern Engliash Press.
·                     http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi






[1] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami (Jakarta:  PT. RajaGrafindo Persada, 2007) Cet ke-2, Hlm 134.
[2] Ibid
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
[4] Drs. Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta:  Modern Engliash Press), Cet ke-1. Hlm 567.
[5] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami (Jakarta:  PT. RajaGrafindo Persada, 2007) Cet ke-2, Hlm 135
[6] Kompas dan Republika, Sabtu, 17 Januari 2009
[7] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2004), cet ke-2, hlm 391.
[8] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada, 2004), cet ke-2, hlm 395

Tidak ada komentar:

Posting Komentar